kuturing: Dasar Fotografi

Asik Indonesia Kebagian Gerhana Matahari Total Pada 2016

KOBA - Kepala Penelitian dan Pengembangan Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).....

Robot Buatan anak Indonesia Meningkat

JAKARTA - Minat anak muda pada robot semakin meningkat, seiring dengan adanya.....

ATSI Dorong Upaya Penindakan Kejahatan Seksual di Internet

JAKARTA - Organisasi penyelenggara telekomunikasi yang tergabung di.....

100 Juta Pengguna Mengunduh WeChat di Google Play di Seluruh Dunia

JAKARTA – Setelah menjadi aplikasi sosial ternama yang tumbuh paling cepat menurut versi GlobalWebIndext.....

Hunting Silahturahmi mahasiswa photography dan photo talk medan

Terima kasih kepada teman-teman Mahasiswa photography dan Photo talk yang .....

Tampilkan postingan dengan label Dasar Fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dasar Fotografi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Maret 2014

Cahaya yang keras vs Cahaya yang lembut untuk foto potret

Cahaya yang seperti apa yang bagus buat potret?

potret-cahaya-keras
Foto potret dengan cahaya ang keras

Cahaya yang keras, sumber cahayanya relatif kecil, yaitu sinar matahari di sore hari. Arah cahaya dari arah samping kanan model.

Mungkin ada yang bingung, sinar matahari kok disebut sumber cahaya yang kecil? Ini karena letaknya yang sangat jauh dari bumi sehingga menjadi relatif kecil dipandang dari bumi, kecuali bila awan menutupi sinar matahari.

Kalau kita perhatikan, cahaya yang keras menghasilkan foto yang sangat kontras. Bayangan yang terbentuk juga sangat jelas dan ngeblok (pemisahan yang jelas antara bagian yang disinari dan bayangan). Bayangan semacam ini menutupi sebagian sisi wajah sehingga wajah model terlihat menjadi kurus. Tekstur kulit seperti jerawat, keriput akan menonjol (untungnya, model kita ini memiliki wajah yang cukup mulus).

Sebaliknya cahaya yang lembut akan menghasilkan foto yang tidak sekontras cahaya yang keras, tekstur muka tidak terlalu menonjol, dan bayangannya bergradasi atau hampir tidak ada.

potret-cahaya-lembut
Foto potret dengan cahaya yang lembut

Untuk mendapatkan cahaya yang lembut, kita perlu sumber cahaya yang relatif besar, dalam foto ini, sebuah reflektor berbentuk bulat di gunakan untuk memblok sinar matahari yang datang dari sebelah kanan model. Sehingga jatuhnya cahaya lingkungan lebih merata di wajah model.

Nah yang mana yang lebih bagus? cahaya yang keras atau lembut? semua tergantung selera. Menurut saya dua-duanya sama bagus. Cahaya yang keras terlihat lebih dramatis, sedangkan cahaya yang lembut membuat wajah lebih halus.

Nah, buat teman-teman sekalian, menurut kalian sendiri, mana yang lebih bagus? foto yang atas atau yang bawah? terus alasannya apa?
Jawabannya ditunggu!

Senin, 24 Maret 2014

Seperti apa foto yang warnanya akurat itu?

Pernahkan anda saat mencetak foto mendapati warna hasil cetaknya tidak memuaskan, atau tidak seperti yang diharapkan? Mau komplain tapi ragu karena kita merasa tempat cetak foto tentu sudah punya mesin yang sesuai standar, atau jangan-jangan monitor kita yang justru tidak akurat? Hal yang tidak dialami saat era fotografi film karena kita tidak bisa membandingkan hasil cetak fotonya dengan monitor kita. Lalu bagaimana menyikapi hal ini, dan seperti apa sih foto yang warnanya akurat itu? Hal ini akan kita bahas secara singkat untuk memberi gambaran supaya kita punya alur kerja manajemen warna yang baik mulai dari memotret hingga mencetak.
Pertama untuk menjawab seperti apa sih foto yang warnanya akurat itu ternyata bukanlah hal yang mudah. Karena umumnya akurasi itu relatif, kita perlu mengacu dulu dengan membandingkan dengan apa yang kita lihat langsung obyek fotonya. Bila kita melihat sebuah obyek berwarna merah ya dalam fotonya harus sama merah, bukan keunguan atau merah muda misalnya. Tapi dalam fotografi itu tidak selalu diperlukan akurasi warna yang sangat presisi, dalam foto landscape malah sering warna dibuat berbeda untuk alasan kreativitas atau keunikan. Kebutuhan akurasi warna yang tepat biasanya ditemui dalam foto produk, foto fashion dan foto makanan. Terlepas apa yang kita akan foto, kita sederhanakan saja bahwa kita ingin mendapat foto yang warnanya akurat, bagaimana upaya yang bisa ditempuh?

Pengaturan di kamera

Ada baiknya kita juga memahami bagaimana warna-warni di alam ini bisa direkam oleh kamera. Di bahasan sebelumnya saya menulis tentang sensor dan filter warnanya. Dibutuhkan tiga filter warna yaitu merah (R), hijau (G) dan biru (B) untuk bisa merekam variasi warna yang beragam di alam ini. Lalu kita juga perlu ingat juga kalau warna yang ditangkap oleh sensor dipengaruhi juga oleh warna sumber cahaya yang menerangi obyek yang difoto. Sebagai bagian dari aspek teknis memotret, pengaturan White Balance di kamera menjadi sangat penting untuk langkah awal mendapatkan foto yang akurat. Disinilah kita mengupayakan kamera mendapat warna yang netral, dimana sebuah benda putih akan tampak putih saat diterangi dengan sumber cahaya apapun (matahari, flash, neon, lampu stadion, lampu jalanan, bohlam di kafe atau restoran, dsb).
WB_colortemp
Di kamera ada banyak cara untuk mengatur WB, misalnya :
  • memilih Auto WB : praktis, cukup akurat, tapi tidak konsisten (bila kita ambil banyak foto di tempat yang sama dengan AWB maka tiap hasil fotonya bisa mengalami sedikit variasi warna)
  • memilih preset melalui simbol yang ada : hasil konsisten selama tidak pindah lokasi dan sumber cahaya tetap, tapi akurasi warna belum tentu pasti akurat, tergantung warna dari sumber cahayanya (misal sudah memilih simbol lampu neon, tapi mungkin hasilnya belum bisa netral)
  • memilih nilai Kelvin (K) disesuaikan dengan temperatur sumber cahaya : hasil warna pasti akurat, tapi perlu coba-coba (sayangnya tidak semua kamera menyediakan fitur ini)
  • mengukur benda putih / custom WB : agak repot, mesti memotret benda putih dulu, tapi hasil paling akurat
Custom WB
Nah, dari beberapa cara diatas mana yang paling sesuai untuk dipilih bila tujuan kita mendapatkan warna yang akurat? Saya pikir mengukur benda putih (custom WB) adalah cara paling tepat, walau sedikit repot tapi hasilnya pasti akurat. Untungnya fitur ini tersedia di banyak kamera digital generasi modern termasuk kamera non DSLR.

Akan lebih aman bila kita memotret dengan file RAW, apabila tujuannya adalah akurasi warna. Karena apapun pilihan WB yang diambil saat foto diambil, kita masih bisa atur belakangan saat editing. Apalagi saat memakai file RAW kita juga bisa atur picture style/picture control belakangan, seperti pengaturan saturasi dan hue (color tone) yang sangat mempengaruhi warna. Bila tidak ada tujuan khusus, biarkan setting saturasi dan hue berada di posisi default/tengah-tengah. Bila kita tidak pakai RAW dan hanya memotret dengan file JPG maka lebih amannya memilih picture style Neutral atau Faithful (di kamera Canon).

Melihat atau editing foto di komputer

Nah kalau bicara editing, maka kita bicara monitor yang umumnya kini berjenis LCD (sebagian juga ada yang jenis CRT/tabung). Sama seperti layar LCD di kamera, layar monitor komputer juga belum tentu menampilkan warna yang akurat. Jadi kurang bijak kalau kita menilai akurasi warna hanya mengandalkan layar LCD di kamera. Monitor komputer, termasuk laptop, bisa jadi juga warnanya tidak akurat dan ini tidak ideal untuk dipakai mengedit foto. Untuk akurasi warna, monitor perlu dikalibrasi sehingga bisa menampilkan warna dan juga terang gelap yang standar. Prosedur kalibrasi bisa dilakukan dengan menu di komputer, biasanya kita diminta untuk mengatur setting brightness dan contrast ke nilai tertentu, lalu secara interaktif kita akan memilih beberapa gambar di layar dan komputer akan otomatis membuatkan sebuah profil untuk kita. Cara lain ada juga dengan software khusus, bahkan bisa kalibrasi monitor melalui website online.

Spyder3
Proses kalibrasi monitor yang lebih profesional memerlukan alat bantu berupa spectrocolorimeter, yang akan membaca warna yang ditampilkan monitor lalu secara otomatis membuatkan profil yang sesuai. Dengan cara ini bisa didapat tampilan monitor yang sangat akurat, baik dalam hal menampilkan warna ataupun menunjukkan perbedaan terang gelap (kontras) yang sesuai. Beberapa alat kalibrasi monitor yang populer diantaranya Datacolor Spider, X-rite i1 dan sebagainya. Ilustrasi perbedaan warna yang ditampilkan monitor antara sebelum dan sesudah di kalibrasi kurang lebih seperti gambar di bawah ini :

color-management1

Saat mencetak foto

Oke, bila foto anda hanya ingin dilihat di monitor, langkah kalibrasi di atas sudah selesai untuk mendapatkan warna yang akurat. Tapi bila anda lanjutkan dengan mencetak fotonya, maka ada hal lain yang perlu diketahui guna mendapat akurasi warna pada hasil cetaknya. Cetak foto ada dua macam, cetak ke tempat cetak foto seperti fotolab, atau cetak sendiri di rumah dengan printer foto rumahan. Saya tidak akan membahas cetak foto di lab karena tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengatur akurasi warna disana, alias pasrah akan hasilnya (tipsnya, carilah tempat cetak foto yang akurasi warnanya terkenal baik). Saat mencetak di rumah, yang penting pastikan pengaturan warna di mesin cetak sudah benar, dan gunakan kertas foto yang baik. Setiap kertas foto juga punya karakter berbeda dalam hal penyerapan tinda dan warna putihnya, sebaiknya sesuaikan profil kertas di setting printer dengan kertas yang dipakai. Misal kertas foto jenis glossy, semi gloss, matte, dan juga ketebalannya.

printer foto
 
Printer masa kini tidak lagi hanya mengandalkan tinta warna dasar seperti RGB atau CMYK untuk mencetak foto. Untuk kekayaan warna bisa ditemui printer dengan 6 warna misalnya CMYK plus grey, atau bahkan ditambah light cyan dan light magenta. Semakin banyak tinta yang tersedia maka hasil cetaknya makin kaya warna dan bisa dibuat makin akurat.

Lebih jauh tentang teknologi sensor di kamera digital

Salah satu aspek yang dilihat saat menilai kualitas kamera digital adalah sensornya. Kita tahu sensor pada kamera digital adalah rangkaian peka cahaya, tempat gambar dibentuk dan dirubah menjadi sinyal data. Tidak semua kamera digital punya ukuran sensor yang sama. Sesuai bentuknya, kamera digital yang kecil umumnya pakai sensor yang juga kecil, sedangkan kamera mirrorless dan DSLR memakai sensor yang lebih besar. Sensor dengan luas penampang sama dengan ukuran film 35mm disebut sensor full frame.  

Mengapa penting untuk mengenal ukuran sensor di kamera digital? Karena ukuran sensor berkaitan dengan kemampuan menangkap cahaya dan menentukan bagus tidaknya hasil foto yang diambil. Sekeping sensor pada dasarnya merupakan sekumpulan piksel yang peka cahaya, saat ini umumnya sekeping sensor punya 10 juta piksel bahkan lebih. Makin banyak piksel, makin detil foto yang bisa direkam. Tapi saat bicara kualitas hasil foto, kita perlu mencari lebih jauh info ukuran sensornya, bukan sekedar berapa juta pikselnya saja.

pixels

Megapiksel, atau resolusi sensor, saat ini seperti jadi cara efektif untuk marketing. Maka itu ponsel berkamera pun dibuat punya sensor yang megapikselnya tinggi. Pun demikian dengan kamera saku sampai kamera canggih, semua berlomba menjual ‘megapiksel’ ini. Bayangkan sensor kecil yang dijejali piksel begitu banyak, seperti apa rapat dan sempitnya piksel-piksel itu berhimpit? Dibawah ini adalah contoh ilustrasi ukuran sensor, dua di sebelah kiri (yang berwarna merah) adalah mewakili sensor kecil, umumnya ditemui di kamera saku. Sensor kecil memang murah dalam hal biaya produksi, dan bisa membuat bentuk kamera jadi sangat kecil.

Sensor-size

Di sisi lain, ukuran sensor yang lebih besar memang lebih mahal dan kamera/lensanya jadi lebih besar. Tapi keuntungannya dengan luas penampang yang lebih besar, tiap piksel punya ukuran yang lebih besar dan mampu menangkap cahaya dengan lebih baik. Maka itu saat kondisi kurang cahaya, dimana kamera tentu akan menaikkan ISO (kepekaan sensor), yang terjadi adalah hasil foto dari kamera dengan sensor besar punya hasil foto yang lebih baik. Sedangkan di ISO tinggi, kamera sensor kecil akan dipenuhi bercak noise yang mengganggu. Noise ini oleh kamera modern dicoba untuk dikurangi secara otomatis (lewat prosesor kamera) namun yang terjadi hasil fotonya jadi tidak natural seperti lukisan cat air.

Sensor CMOS vs sensor CCD

Perbedaan utama desain CMOS dan CCD adalah pada sirkuit digitalnya. Setiap piksel pada sensor CMOS sudah memakai sistem chip yang langsung mengkonversi tegangan menjadi data, sementara piksel-piksel pada sensor CCD hanya berupa photodioda yang mengeluarkan sinyal analog (sehingga perlu rangkaian terpisah untuk merubah dari analog ke digital/ADC). Anda mungkin penasaran mengapa banyak produsen yang kini beralih ke sensor CMOS, padahal secara hasil foto sensor CCD juga sudah memenuhi standar. Alasan utamanya menurut saya adalah soal kepraktisan, dimana sekeping sensor CMOS sudah mampu memberi keluaran data digital siap olah sehingga meniadakan biaya untuk membuat rangkaian ADC.
CCD-vs-CMOS-image
Selain itu sensor CMOS juga punya kemampuan untuk diajak bekerja cepat yaitu sanggup mengambil banyak foto dalam waktu satu detik. Ini tentu menguntungkan bagi produsen yang ingin menjual fitur high speed burst. Faktor lain yang juga perlu dicatat adalah sensor CMOS lebih hemat energi sehingga pemakaian baterai lebih awet. Maka itu tak heran kini semakin banyak kamera digital (DSLR maupun kamera saku) yang akhirnya beralih ke sensor CMOS. Adapun soal kemampuan sensor CMOS dalam ISO tinggi pada dasarnya tak berbeda dengan sensor CCD dimana noise yang ditimbulkan juga linier dengan kenaikan ISO. Kalau ada klaim sensor CMOS lebih aman dari noise maka itu hanya kecerdikan produsen dalam mengatur noise reduction.

Cara sensor ‘menangkap’ warna

Warna RGB

Sensor gambar pada dasarnya merupakan perpaduan dari chip peka cahaya (untuk mendapat informasi terang gelap) dan filter warna (untuk merekam warna seakurat mungkin). Di era fotografi film, pada sebuah roll film terdapat tiga lapis emulsi yang peka terhadap warna merah (Red), hijau (Green) dan biru (Blue). Di era digital, sensor kamera memiliki bermacam variasi desain teknologi filter warna tergantung produsennya dan harga sensornya. Cara kerja filter warna cukup simpel, misal seberkas cahaya polikromatik (multi warna) melalui filter merah, maka warna apapun selain warna merah tidak bisa lolos melewati filter itu. Dengan begitu sensor hanya akan menghasilkan warna merah saja. Untuk mewujudkan jutaan kombinasi warna seperti keadaan aslinya, cukup memakai tiga warna filter yaitu RGB (sama seperti film) dan pencampuran dari ketiga warna komplementer itu bisa menghasilkan aneka warna yang sangat banyak. Hal yang sama kita bisa jumpai juga di layar LCD seperti komputer atau ponsel yang tersusun dari piksel RGB.
Proses image capture

Bayer CFA

Sesuai nama penemunya yaitu Bryce Bayer, seorang  ilmuwan dari Kodak pertama kali memperkenalkan teknik ini di tahun 1970. Sensor dengan desain Bayer Color Filter Array (CFA) termasuk sensor paling banyak dipakai di kamera digital hingga saat ini. Keuntungan desain sensor Bayer adalah desain mosaik filter warna yang simpel cukup satu lapis, namun sudah mencakup tiga elemen warna dasar yaitu RGB (lihat ilustrasi di atas). Kerugiannya adalah setiap satu piksel pada dasarnya hanya ‘melihat’ satu warna, maka untuk bisa menampilkan warna yang sebenarnya perlu dilakukan teknik color sampling dengan perhitungan rumit berupa interpolasi (demosaicing). Perhatikan ilustrasi mosaik piksel di bawah ini, ternyata filter warna hijau punya jumlah yang lebih banyak dibanding warna merah dan biru. Hal ini dibuat mengikuti sifat mata manusia yang lebih peka terhadap warna hijau.
Bayer_pattern_on_sensor_profile

Kekurangan sensor Bayer yang paling disayangkan adalah hasil foto yang didapat dengan cara interpolasi tidak bisa menampilkan warna sebaik aslinya. Selain itu kerap terjadi moire pada saat sensor menangkap pola garis yang rapat seperti motif di kemeja atau pada bangunan. Cara termudah mengurangi moire adalah dengan memasang filter low pass yang bersifat anti aliasing, yang membuat ketajaman foto sedikit menurun.

Sensor X Trans

Sensor dengan nama X Trans dikembangkan secara ekslusif oleh Fujifilm, dan digunakan pada beberapa kamera kelas atas Fuji seperti X-E2 dan X-T1. Desain filter warna di sensor X Trans merupakan pengembangan dari desain Bayer yang punya kesamaan bahwa setiap piksel hanya bisa melihat satu warna. Bedanya, Fuji menata ulang susunan filter warna RGBnya. Bila pada desain Bayer kita menemui dua piksel hijau, satu merah dan satu biru pada grid 2×2, maka di sensor X Trans kita akan menemui pola grid 6×6 yang berulang. Nama X trans sepertinya diambil dari susunan piksel hijau dalam grid 6×6 yang membentuk huruf X seperti contoh di bawah ini.

X Trans

Fuji mengklaim beberapa keunggulan desain X Trans seperti :
  • tidak perlu filter low pass, karena desain pikselnya sudah aman dari moire
  • terhindar dari false colour, karena setiap baris piksel punya semua elemen warna RGB
  • tata letak filter warna yang agak acak memberi kesan grain layaknya film
Sepintas kita bisa setuju kalau desain X Trans lebih baik daripada Bayer, namun ada beberapa hal yang masih jadi kendala dari desain X Trans ini, yaitu hampir tidak mungkin Fuji akan memberikan lisensi X Trans ke produsen kamera lain (artinya hanya pemilik kamera Fuji tipe tertentu yang bisa menikmati sensor ini). Kendala lain adalah sulitnya dukungan aplikasi editing untuk bisa membaca file RAW dari sensor X Trans ini.

Sensor Foveon X3

foveon X3 

Foveon sementara ini juga ekslusif dikembangakan untuk kamera Sigma tipe tertentu. Dibanding sensor lain yang cuma punya satu lapis filter warna, sensor Foveon punya tiga lapis filter warna yaitu lapisan merah, hijau dan biru. Desain ini persis sama dengan desain emulsi warna pada roll film foto. Hasil foto dari sensor Foveon memberikan warna yang akurat dan cenderung vibrant, bahasa gampangnya seindah warna aslinya. Hal yang wajar karena setiap photo detector di sensor Foveon memang menerima informasi warna yang utuh dan tidak diperlukan lagi proses ‘menebak’ warna seperti sensor Bayer atau X-Trans.

Yang jadi polemik dalam sensor Foveon adalah jumlah piksel aktual. Misalnya ada tiga lapis filter warna yang masing-masing berjumlah 3,4 juta piksel, maka Foveon menyebut sensornya adalah sensor 10,2 MP karena didapat dari 3 lapis filter 3,4 MP. Ini agak rancu karena saat foto yang dihasilkan dari sensor Foveon kita lihat ukuran pikselnya memang hanya 2268 x 1512 piksel atau setara dengan 3,4 MP.

Salah satu kelemahan dari sensor Foveon adalah noise yang sudah terasa mengganggu walau di ISO menengah seperti ISO 800. Tapi seiring peningkatan teknologi pengurang noise maka hal ini tidak akan jadi masalah serius di masa mendatang.

Kesimpulan

Teknologi sensor gambar masih terus berkembang, dari yang paling mudah dilihat seperti kenaikan resolusi (megapiksel) hingga teknologi lain yang bisa membuat hasil foto meningkat siginifkan. Yang saya cermati adalah era Bayer sudah terlampau usang, dengan teknik interpolasi yang banyak keterbatasan, perlu segera digantikan dengan metoda lain. Sensor X Trans buatan Fuji membawa angin segar dengan peningkatan kualitas foto dibanding sensor Bayer khususnya dalam hal ketajaman dan kekayaan warna, namun sayangnya tidak (belum?) bisa diadopsi di kamera lain. Sensor Foveon pun demikian, walau secara teknik paling menyerupai emulsi film (yang artinya bakal memberi hasil foto yang paling baik) justru dipakai di kamera yang jarang dijumpai seperti kamera Sigma. Sensor kamera yang paling ideal itu harus cukup banyak piksel (detail), punya dynamic range lebih lebar dari sensor yang ada saat ini, punya filter warna yang lebih baik dari Bayer CFA, dan efisien (harga, performa, kinerja ISO tinggi dsb). Kira-kira kapan ya sensor ideal ini bisa terwujud?

Apa itu HDR (High Dynamic Range)?

Sensor gambar kamera (image sensor) belum secanggih mata manusia dalam melihat gelap terang yang sangat kontras di sebuah pemandangan. Misalnya saat menikmati pemandangan matahari terbit atau tenggelam, warna dan corak langit sangat indah dan bervariasi. Sedangkan kamera digital yang kita miliki, meskipun yang paling canggih sekalipun belum mampu merekam detail secara penuh dari pemandangan tersebut. Akibatnya di beberapa bagian foto akan terlihat terlalu terang (putih) dan sebagian akan terlalu gelap (hitam).

Foto matahari terbit tanpa HDR. 1/15 detik, ISO 100, f/16, 17mm
Foto matahari terbit tanpa HDR. 1/15 detik, ISO 100, f/16, 17mm

HDR built-in di kamera Nikon D600 dengan setting exposure 3 stop dan smoothing high

Foto diatas dibuat dengan waktu yang terpaut tidak jauh berbeda, tapi hasilnya sangat berbeda. Di foto yang pertama, saya memotret secara biasa, sedangkan yang kedua dengan mengaktifkan fitur HDR di kamera Nikon D600. Hasilnya, detail awan dan batu-batuan yang tadinya gelap jadi terlihat terang. Sayangnya fitur HDR di kamera Nikon D600 ini hanya bisa diaktifkan jika memilih image quality berbentuk JPG saja, tidak bisa berupa RAW. Sedangkan di kamera Canon 5D Mk 3 sudah bisa merekam foto HDR otomatis dengan format file RAW.

Cukup banyak juga kamera digital baik SLR, compact maupun ponsel yang memiliki fitur ini. Contohnya Pentax K3, Canon 5D Mk3, Canon G16, Nikon Coolpix P100, Sony NEX dan lain lain.

Saat memotret HDR, kita wajib mengunakan tripod atau memastikan komposisi dan kamera tidak berubah. Hal ini karena kamera akan mengambil minimal dua foto (yang satu terang, satu gelap) kemudian kedua foto tersebut akan digabungkan menjadi satu. Dengan demikian hasil foto akhir memiliki detail yang paling lengkap. Saat memotret HDR, pastikan mode yang digunakan adalah Aperture Priority atau Manual, sehingga ruang tajam tidak berbeda. White Balance yang mengatur warna harusnya juga jangan AWB (Auto), tapi ditentukan sesuai sumber cahaya yang ada, misalnya Daylight atau simbol matahari.

Menu dan kualitas olahan HDR kamera masih sangat terbatas baik pilihan dan kualitasnya, maka itu, jika berminat membuat HDR yang lebih sesuai dengan keinginan (baik halus maupun keras/dramatis), maka sebaiknya melakukan teknik HDR secara manual. Caranya yaitu membuat setidaknya dua foto yang berbeda terang-gelapnya, dan lalu diproses dengan software HDR. Saat ini, yang populer adalah software bernama Photomatix atau Adobe Photoshop CS.

Minggu, 23 Maret 2014

Bagaimana memilih mode AF Area di kamera DSLR Nikon

Selama saya mengajar fotografi terutama secara privat, banyak yang memiliki kamera DSLR Nikon menengah-canggih seperti Nikon D300, D700, D800 dan D3-D4, menanyakan tentang mode area fokus. 

Pilihannya cukup banyak dan buku manual tidak begitu rinci membahasnya. 
Sebenarnya tidak rumit-rumit banget kok, yuk, kita simak.

Auto Area AF

auto-area-af
Kamera memilihkan titik auto fokus untuk kita. Biasanya kamera cenderung memilih objek foto yang berukuran besar, kontrasnya tinggi. Enaknya mengunakan auto area AF adalah kita tidak perlu memindahkan dan menentukan titik autofokus, sehingga kecepatan dalam memotret lebih cepat. Kerugiannya adalah kadang kamera salah menentukan hal yang perlu difokus. Contohnya, kamera memilih fokus di pagar daripada satwa yang dibalik pagar, atau memilih fokus ke gedung di belakang padahal kita ingin memotret orang di depan gedung. Di beberapa kamera DSLR Nikon yang terbaru seperti D800, Auto Area AF dilengkapi dengan face detection sehingga fokus lebih akurat saat memotret manusia. Saya sendiri jarang mengunakan auto area AF. Hanya kalau saya tidak bisa melihat jendela bidik misalnya saat saya mengangkat kamera tinggi-tinggi, saya akan gunakan Auto Area AF.

Single Point AF (39 atau 51 titik)

single-af-point
Di mode ini, kita sendiri yang menentukan titik fokusnya. Sesuaikan posisi titik fokus (bentuknya kotak) dengan subjek yang ingin difokuskan. Tekan setengah untuk mengunci fokus. Subjek yang berimpit dengan titik fokus akan tajam. Single Point AF lebih akurat dan lebih sesuai dengan keinginan fotografernya. Maka itu, mode ini yang saya sering gunakan untuk objek yang tidak bergerak.

Single Point AF (11 titik)

11-af-points
Titik fokus yang terlalu banyak kadang membuat kita kerepotan dan memperlambat kita dalam mengganti titik fokus dari satu titik ke titik lainnya. Jika titik fokus dirasa terlalu banyak, maka pilihan 11 titik fokus bisa dipilih. Cara memilihnya yaitu di dalam menu>custom (gambar pensil)>AF Point selection. Disini Anda bisa memilih 11 titik daripada 39 atau 51 titik. Pilihan 11 titik mempercepat proses pergantian titik fokus dari ujung ke ujung bidang bidik.

Saat memilih mode AF-C untuk memotret subjek bergerak, maka terbuka beberapa pilihan lagi yaitu:

Dynamic Area AF (9 titik)

dynamic-area-9-point
Cocok untuk subjek yang bergerak tapi tidak terlalu cepat dengan arah gerakan yang mudah diprediksi, misalnya orang berjalan dari kiri ke kanan. Titik fokus yang aktif hanya 1, tapi ada 8 titik autofokus disekelilingnya yang juga aktif dalam melacak perpindahan subjek foto.

Dynamic Area AF (21 titik)

dynamic-area-21-pointCocok untuk subjek yang bergerak tidak beraturan, misalnya pemain atlit olahraga dan penari. 21 titik autofokus akan siaga untuk melacak dan mengikuti subjek selama tombol shutter/jepret ditahan setengah.

Dynamic Area AF (51 atau 39 titik) dan 3D tracking

dynamic-area-51-point 

Kesemua titik fokus akan aktif melacak pergerakan subjek. Cocok untuk subjek yang bergerak sangat cepat dan sangat tidak beraturan, misalnya pergerakan satwa liar. Saat memilih mode area ini, kita bisa memilih 3D tracking.

3D tracking mengunakan sensor warna untuk melacak subjek foto. Ideal jika subjek fotonya memiliki warna yang berbeda dengan latar belakang. Contohnya memotret mobil merah yang sedang melaju.

AF Area mode Nikon biasanya terletak di dalam menu>custom menu>autofocus
 AF Area mode Nikon biasanya terletak di dalam menu>custom menu>autofocus
Tuas untuk mengganti mode AF area di kamera Nikon D700
Tuas untuk mengganti mode AF area di kamera Nikon D700

Artikel terbaru

Berita Handphone

More on this category »

Berita Internet & Web

More on this category »

Teknik Hacking

More on this category »

Berita Robot

More on this category »

Berita Pemrograman

More on this category »

Berita kamera

More on this category »