kuturing: Filosofi fotografi

Asik Indonesia Kebagian Gerhana Matahari Total Pada 2016

KOBA - Kepala Penelitian dan Pengembangan Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).....

Robot Buatan anak Indonesia Meningkat

JAKARTA - Minat anak muda pada robot semakin meningkat, seiring dengan adanya.....

ATSI Dorong Upaya Penindakan Kejahatan Seksual di Internet

JAKARTA - Organisasi penyelenggara telekomunikasi yang tergabung di.....

100 Juta Pengguna Mengunduh WeChat di Google Play di Seluruh Dunia

JAKARTA – Setelah menjadi aplikasi sosial ternama yang tumbuh paling cepat menurut versi GlobalWebIndext.....

Hunting Silahturahmi mahasiswa photography dan photo talk medan

Terima kasih kepada teman-teman Mahasiswa photography dan Photo talk yang .....

Tampilkan postingan dengan label Filosofi fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filosofi fotografi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 April 2014

Darwis Triadi | Guide line


Sebuah Renungan : By Darwis Triadi

Perjalanan menuju kesempurnaan adalah proses menentukan setiap tapak langkah kita. Yang membuat “lebih” dari langkah kita adalah kemampuan memanfaatkan waktu untuk melakukan beragam hal dengan maksimal. Baik untuk diri sendiri ataupun orang lain. Lantas, apa artinya waktu bagi kita sebagai fotografer?

Menurut saya, sebuah foto berusaha menangkap waktu. Kamera, membekukan, dan mengabadikannya. Tapi yang terekam hanyalah citra dari sebuah pemandangan di depan kamera. Waktu selalu ada di luar foto-foto itu, sehingga penafsiran sebuah foto selalu dipengaruhi oleh historisitasnya kapan seseorang memandang foto itu. Gambar dalam foto boleh terandaikan abadi, namun maknanya selalu bergeser bersama waktu.

Foto merupakan kala citra. Kala berarti waktu, dan citra adalah gambaran. Gambar-gambar yang terekam oleh kamera terbagi oleh citra yang berdimensi waktu. Waktu, menurut saya sebagai seorang fotografer adalah: moment. Apalah artinya sebuah gambar bila moment yang saya rekam tidak memberikan sebuah roh atau jiwa dari foto tersebut. Andai saja kita tidak bisa menggunakan waktu dengan baik, maka moment sebuah obyek foto akan “menguap” atau terlewatkan begitu saja.

Saya akan mencoba mengutip sebuah pepatah bijak. “Bila kau ingin tahu apa artinya waktu 1 tahun, tanyakan pada siswa yang tidak naik kelas. Makna 1 bulan, tanyalah kepada ibu yang melahirkan premature. Makna 1 minggu, tanyalah seorang editor majalah mingguan. Makna 1 hari, tanyalah seorang yang bekerja dengan gaji harian. Makna 1 jam, tanyalah seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya.

Kemudian, makna 1 menit, tanyalah seorang yang ketinggalan kereta. Bila kau ingin tahu apa artinya watu sedetik, tanyakan pada atlet lari 100 meter. Atau jika kau ingin tahu tentang makna waktu dan hidup, tanyakan pada orang yang akan dihukum mati esok hari.” Berikutnya, apa rahasia terbesar dalam hidup ini? Menurut saya, jalani kehidupan hari ini dengan penuh makna. Waktu kadang terasa cepat, kadang pula lambat. Selama perjalanan hidup ini, waktu menjadi guide line hidup saya ke depan. Dengan menghargai waktu, sudah sepantasnya kita membuat rencana hidup menjadi lebih bermakna untuk diri saya dan masyarakat pada umumnya.

Saat kaki melangkah untuk mewujudkan cita-cita, terkadang bisa berubah tanpa kita sadari. Semua sudah ada yang mengatur yaitu: TUHAN. Kita tak boleh menyesali, mengapa tidak sesuai rencana yang kita inginkan. Harus disadari, tak seorang yang mampu membuat sebuah rencana hidup dengan sempurna. Semua sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa. Percayalah, pasti ada sebuah rencana besar yang sudah TUHAN buat untuk diri kita.

Ketika merenungkan lagi tentang Sang Waktu, saya makin tak tahu. Semakin saya renung, makin misterilah Sang Waktu. Yah, lebih baik saya jalani saja waktu. Kehidupan berjalan terus beriringan dengan Sang Waktu. Kapan berawal, kapan berakhir, kapan hidup, kapan mati, siapa yang tahu?

Contohnya seperti perjalanan hidup saya sebelum menggeluti dunia fotografi. Pada awalnya saya sudah berprofesi sebagai pilot. Tetapi, selama berjalannnya waktu, hati dan pikiran ini mengarahkan saya untuk menekuni profesi sebagai fotografer. Padahal teknik fotografi belum saya kuasai. Karena waktu sudah menjadi guide line hidup saya, maka saya berusaha sekuat tenaga dan sebaik mungkin untuk memanfaatkan waktu menjadi lebih berarti bagi diri saya dan masyarakat. Saya manfaatkan waktu untuk terus belajar dan berkarya.

Dan kini seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, I only lives in twice. Once as a pilot and the other one as a photographer. Waktu adalah sesuatu yang tak akan pernah kembali. Dia akan berjalan terus, walaupun ada yang menangis bersujud memintanya berhenti. Orang yang hebat adalah orang yang bisa berjalan beriringan dengan waktu. Bukan orang yang tertinggal oleh waktu.

Darwis Triadi : Kedewasaan | Photography dan Menilai serta Menghargai

Kedewasaan
by Om Darwis Triadi :

Mungkin Anda pernah merasa kesal karena orang lain tidak menghargai Anda. Atau, barangkali Anda juga sering marah karena orang lain tidak memerhatikan Anda. Sepertinya, saling menghormati, menghargai dan tidak mencibirkan karya orang lain, seolah menjadi sesuatu yang terlalu mewah untuk dimiliki dan temui saat ini. Padahal, suka atau tidak, kita hidup saling berinteraksi dengan orang lain.

Saya bukan termasuk pengamat dunia fotografi. Tapi saya mencoba untuk berpendapat dan mengatakan berdasarkan pengalaman yang sudah saya alami selama kurang dari tiga puluh tahun bergelut di dunia fotografi. Sejak pertamakali saya memantapkan diri menggeluti dunia ini, perkembangan fotografi di Indonesia hingga kini sungguh memprihatinkan. Itu terlepas dari fotografer profesional atau non profesional.

Sekarang ini, banyak fotografer kita lebih mengembangkan paradigmanya (baca: pola berpikir atau cara pandang) masing-masing untuk menjalani profesinya melalui lensa kepentingan, ketimbang kegentingannya. Akibatnya, tak ada lagi ruang untuk saling menghormati dan menghargai sesama fotografer.

Meski ada hal tersebut, tapi hanya sebatas dalam satu komunitas saja. Banyak sekali penghargaan kepada fotografer itu diberikan di dalam kelompoknya sendiri. Mereka saling memuji di dalam kelompok dan sangat sempit pola berpikirnya. Bila ada fotografer lain menghasilkan karya bagus di luar kelompoknya, mereka dengan cepat berlomba-lomba untuk mencibirnya dengan nada minus.

Mengubah mindset fotografer

Menilai hasil karya orang lain sungguh mudah. Tapi benarkah pendapat kita itu? Seorang fotografer bila ingin menilai karya orang lain, seharusnya berpikir dengan rasa terlebih dahulu. Karena seorang fotografer berpikir tanpa didahului dengan rasa, berarti fotografer itu tidak memiliki pendewasaan dalam berpikir. Permasalahannya adalah, benarkah pujian dan menghargai karya sesama fotografer dalam sebuah komunitas itu berangkat dari hati yang tulus?

Menurut pengalaman saya, hal itu hanyalah sebatas topeng belaka. Kelihatannya kumpulan dari fotografer itu kompak dalam community-nya. Tapi dibelakangnya mereka saling bersaing dan membandingkan. Ya, layaknya orang menjual “pompa dragon” yang melakukan praktik bisnis fotografi dengan cara menjatuhkan dan bersifat fisik semata. Baginya, sukses mendapatkan sebanyak-banyaknya materi adalah tujuan utamanya meski harus dengan cara seperti penjual “pompa dragon”. (Dahulu di pasar Senen, Jakarta, sepanjang jalan banyak sekali orang menjual pompa dragon dengan memberi label “paling murah”. Padahal, disamping kiri-kanannya juga menjual pompa dengan merk dan kualitas yang sama)

Tapi apakah dengan cara seperti itu kesuksesan diraih? Melihat kondisi seperti ini saya menilai, dunia fotografi itu dunianya “iri”. Atau kalau boleh saya meminjam istilah Gus Dur, dunia fotografi di Indonesia sama halnya dengan Dunia Taman Kanak-kanak. Padahal, kita itu hidup dalam satu atap rumah yang namanya fotografi. Kita hidup bukan untuk saling bersaing. Tapi kita ada untuk saling melengkapi.

Sebenarnya, semua itu bermuara pada cara pandang, pola pikir dan komitmen rasa fotografer kepada profesinya. Sementara ini, kebanyakan para fotografer kita yang sudah lama menggeluti dunia fotografi, nyaris tidak memiliki kedewasaan dalam pola berpikir. Kebanyakan dari mereka, lagi-lagi menurut pendapat saya, tidak pernah menghargai orang muda dengan karya-karyanya. Bagi mereka, yang muda haruslah menghargai dan menghormati seniornya.

Begitu pun sebaliknya. Menurut saya, yang muda juga tak menghargai para seniornya. Jelaslah terlihat yang ada hanyalah saling mencela, mencibir, beroritentasi pada materi dan itu sudah menjadi sebuah karekter umum. Dan hukum yang berlaku adalah antara senior dan yunior. Justru yang harus dibangun adalah, bagaimana satu sama lain harus bisa saling menghargai dan menghormati tanpa melihat status.

Untuk bisa mengubah cara pandang, pola berpikir yang disebut paradigma, sama halnya seperti kacamata. Paradigma ini sangat mempengaruhi cara kita melihat segala sesuatu dalam hidup kita. Buat saya, dalam fotografi itu terdapat proses pendewasaan. Untuk bisa mencapai hal itu dalam berpikir dan berprilaku, sungguh membutuhkan waktu.

Untuk itulah, saya mendirikan sekolah fotografi. Materi yang kita berikan di sekolah ini tak sekadar teknik belaka. Tapi lebih dari itu misalnya, bagaimana cara mengendalikan hati, pikiran, mengamalkan ilmu, tidak berpikir secara kelompok tetapi lebih blending dan bersifat nasional. Bahkan kalau bisa mengglobal. Itu yang lebih penting.

Melebur dalam rasa dan komitmen profesi
Perubahan mindset tersebut pada hakikatnya merupakan berkah besar yang pada akhirnya bermanifestasikan dalam bentuk pola berpikir dan cara pandang yang lebih positif dalam bersikap dan hidup bermasyarakat.

Lalu, bagaimana cara kita membina hubungan baik dengan orang lain (di luar komunitas) agar hidup kita menjadi lebih menyenangkan? Nah, mungkin inilah yang harus kita coba latih bagaimana cara menghargai orang lain, komitmen pada profesi dan mengolah rasa sesama fotografer. Kuncinya hanya satu: buat orang lain merasa penting, berharga dan hidup bermasyarakat tanpa membawa predikat sebagai fotografer. Kita harus dikenal semua orang atau masyarakat secara menyeluruh. Mulai dari kepribadian yang baik, attitude, komitmen dan memegang teguh tanggungjawab profesi kita sebagai fotografer.

Mungkin pendapat saya ini sepertinya berlebihan. Tapi sejujurnya yang harus diingat adalah bahwa, kita hidup di negeri timur yang dituntut saling menghargai, ber“tepo seliro” dan bertingkah laku baik. Bila hidup di negeri barat, meski kita punya karya yang bagus tapi memiliki pola berpikir yang sempit dan tingkah laku yang minus, tidak akan dibicarakan oleh orang lain dan tidak terlalu dipersoalkan. Tapi karyanya yang mereka diskusikan.

Disitulah perbedaannya antara kehidupan fotografer di Indonesia dan di luar negeri. Meski saya pernah belajar fotografi di luar negeri dan banyak memberikan makalah seminar fotografi di luar negeri, bukan berarti saya bangga. Justru saya lebih senang berbagi ilmu kepada masyakarat Indonesia, kalau ingin belajar kepada saya soal fotografi. Buat apa saya memajukan negara lain, sedangkan di negeri ini masih membutuhkan pengetahuan fotografi?

Menurut saya, belajar fotografi yang dikaitkan dengan kehidupan, hanya ada di Indonesia. Saya sangat belajar dengan itu. Misalnya: bagaimana cara menghormati dan menghargai orang lain. Kita harus bisa hidup dan diterima ditengah masyarakat, bukan karena profesi kita. Tapi kita dikenal sebagai personal diri yang memiliki pola berpikir dewasa.

Saya masih ingat betul pengalaman menarik tahun 1986 ketika di Bandung bersama almarhum Bapak H. Boediardjo, mantan Menteri Penerangan Republik Indonesia (1968-1973). Saat itu, ada sebuah gathering komunitas fotografer, Bandung yang diprakarsai almarhum. Persoalan utama yang dibahas oleh almarhum adalah: bahwa fotografer itu tidak boleh hidup berkelompok. Sebaiknya blending dengan komunitas lainnya sehingga satu sama lain bisa saling menghargai. Itulah ide almarhum yang sangat saya ingat. Bahwa fotografer itu hidupnya tidak boleh berkelompok. Atau mengkotak-kotakkan diri bahwa saya fotografer jurnalis, wedding, atau lainnya.

Dari pengalaman itu saya berusaha untuk “keluar” dan mulai membaur dengan segala macam lapisan masyarakat tanpa membawa identitas saya sebagai fotografer. Saya mulai belajar akan kedewasaan hidup dari fotografi. Berbagi ilmu kepada masyarkat, meski hanya data teknis secara basic. Buat saya, memberikan data teknis bukanlah pembodohan. Akan tetapi dibalik itu yang lebih penting adalah bahwa setiap foto harus memiliki jiwa/soul. Hal itu baru bisa dilakukan kalau kita sudah pada tahap pengolahan rasa. Karena sebetulnya fotografi adalah: bicara cahaya. Dan cahaya itu harus kita coba, kita lihat, dan kita rasakan.

Menjadi diri sendiri
Sekilas tak ada yang luar biasa dari sebuah kaos. Tapi kaos itu menjadi bernilai bila didisain dengan ilustrasi sebuah nama atau foto. Namun masalahnya, dari goresan yang melekat pada kaos itu, memberikan implikasi negatif kepada yang melihatnya. Bukan yang mengenakan kaos tersebut. Inilah kondisi yang serharusnya tak perlu ada. Padahal, tak semua orang yang mengenakan kaos dengan gambar tertentu itu menunjukkan jati dari diri dari orang yang memakainya.

Menurut saya, pada prinsipnya orang ingin mengenakan kaos berlabel A atau B, bukan sesuatu yang dipersoalkan. Yang mereka pakai bukan kaos untuk kampanye Pemilu. Tapi yang harus digarisbawahi adalah: bahwa yang mengenakan kaos tersebut merasa nyaman dan appreciate terhadap karya yang wajahnya terpasang di kaos yang dikenakannya. Untuk mengenakan kaos tersebut, tentunya mereka harus mengeluarkna kocek dari kantongnya secara suka rela. Tanpa ada unsur paksaan. Mau pakai oke, tidak juga, it’s oke.

Kembali lagi kepada bagaimana menjadi diri sendiri. Seorang fotografer bila ingin memberikan komentar terhadap karya orang lain, seharusnya berpikir dengan rasa terlebih dahulu. Karena seorang fotografer berpikir tanpa didahului dengan rasa, berarti fotografer itu tidak memiliki pendewasaan dalam berpikir.

Selain itu menurut pandangan saya, yang namanya fotografi adalah, tidak hanya berkaitan dengan profesi saja. Tapi, lebih kepada tanggungjawab yang lebih luas lagi. Dan tidak ada lagi persoalan saling mencibir diantara sesama kelompok profesi. Mengapa? Karena kita satu tujuan untuk mengembangkan dunia fotografi di Indonesia.

Sebaiknya, fotografi itu harus dikembangkan dengan kehidupan. Nah, komitmen itu yang harus kita miliki dan pada akhirnya kita tidak akan memiliki musuh. Meski banyak orang menjelekkan saya, tapi TUHAN tidak tidur. TUHAN itu memberikan rezeki kepada ciptaannya, Tidak Kurang dan juga tidak lebih.

Biarkan orang awam yang menilai perilaku dan karya kita. Bukan rekan-rekan seprofesi yang hidup dalam satu lingkungan, menilai karya kita penuh subyektifitas. Suatu ketika, kita akan hidup dalam kondisi sudah tidak berkarya. Dan alangkah manisnya hidup ini bila kita dikenal sebagai orang yang banyak menghasilkan karya yang baik dengan pribadi atau karakter diri yang baik pula.

Selasa, 25 Maret 2014

GOAL : Mencapai sasaran fotografi

Sore itu, saya bersama teman saya yang berprofesi sebagai aktor, mengunjungi sebuah studio wedding bernama Paper Crane di daerah North Sydney. Paper Crane merupakan penyedia jasa wedding videografi di Sydney, dan menurut saya mereka yang terbaik di Sydney. Yang punya orang Indonesia lho, yaitu Susanto. Tujuan kunjungan kami hanya sekedar silaturahmi saja, karena teman saya udah lama tidak bertemu dengan pemilik Paper Crane. Kami pun ngobrol santai seputar pemenang piala Oscar, sampai film Schindler’s list. Entah pada obrolan titik mana, saya ditanya Susanto dengan satu pertanyaan menohok, “Wiwid, what is your ultimate goal?” Dia bertanya dengan nada yang cukup serius. Saya terdiam beberapa saat memikirkan jawabannya, karena bukan sekedar goal/target, tapi ultimate goal. Akhirnya saya menjawab “saya pengen keliling dunia dengan fotografi…” Jawaban yang sebenarnya terbesit saat obrolan itu.

WidiatmojoRadityo_uncanny_1454

Manusia yang memiliki profesi, apapun itu, pasti memiliki target dalam lingkungan kerjanya. Jika anda bekerja dalam sebuah perusahaan, maka target tersebut lebih sering di tentukan oleh perusahaan. Contoh paling simple adalah seorang Marketing yang di tekan oleh sebuah perusahaan untuk mencapai angka target penjualan tertentu. Lain halnya seorang fotografer freelance. Target yang ingin dicapai merupakan ambisi pribadi, yang didukung oleh unsur-unsur ambisi, dedikasi, pengembangan diri serta ekonomi.

Jawaban saya atas pertanyaan Om Santo yang sesaat merupakan sebuah kesalahan, karena target seorang pekerja kreatif harus ditentukan, dituliskan, dinyatakan dan disematkan didalam hati. Dia menyarankan bahwa sebagai seorang manusia kreatif, target harus di tentukan terlebih dahulu, lalu menentukan caranya untuk meraih target tersebut. Logika berpikir mundur adalah jalan untuk meraih target tersebut. Saran om Santo untuk berpikir mundur juga diajarkan di sekolah saya. “Thinking backward will help you to redefine the way how you will reach your goals”, ujar dosen pengajar Professional Practices.

WidiatmojoRadityo_the_rock_0291
Suatu saat saya ingin menerbitkan buku foto tentang Street Photography

WidiatmojoRadityo_Sydney_2914

Untuk mencapai target jangka panjang, diperlukan target-target jangka menengah dan jangka pendek. Target dadakan yang saya jawab di atas, Keliling dunia, merupakan contoh target jangka panjang. Namun bisa jadi target tersebut menjadi target jangka pendek atau menengah. Penentuan jenis target sangat tergantung pribadi anda sendiri. Saya bisa mencontohkan guru favorit saya, Tania. Dia merupakan seorang fotografer sekaligus seniman. Keliling dunia dia tempatkan pada target jangka menengah, karena saat ini dia sering keliling dunia untuk melakukan solo exhibition, baik di New York, Israel, maupun di Sydney.

Dia bisa menjadi seperti itu karena keuletannya menghasilkan karya baru. Sebagai wujud kecintaannya terhadap fotografi Tania mengambil sekolah master di bidang fine art. Pameran pernah di jalani, mengajar adalah bentuk dedikasinya terhadap fotografi, namun apakah Tania berhenti sampai di sini saja? Ternyata tidak. Suatu malam setelah pameran akhir angkatanku, Tania mengajak saya dan 1 teman saya untuk dinner.
Sembari bercanda ini itu, Tania bertanya kepadaku, “I really want to know what is your goal in this life?”Saya pun menjawab dengan tegas, “I want to have my own private photography school, the best one, and travel around the world with my lovely little family…” Lalu dia menimpali “That’s really good, you know what? Right now I’m thinking someday I will get my MUSEUM”. Tania ingin memiliki sebuah Museum, yang lengkap dengan fasilitas kantor, studio serta galeri. Apakah target Tania bisa dikatakan gila?

Satu pengalaman yang sangat berharga yang saya dapat di Sydney adalah visi fotografer di sini sudah melihat jauh ke depan. Target mereka bisa saya katakana gila semua. Namun justru kegilaan tersebut yang akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa.

Dan sekarang saya bertanya kepada para fotografer, “Apakah goal anda dapat dicapai melalui fotografi?” Jawabnya “Yes, you can…” seperti foto dibawah ini

WidiatmojoRadityo_Aussie_Day_0163

Senin, 24 Maret 2014

Hidup tanpa sasaran

Hampir semua orang sukses, motivator, pemimpin mengajarkan bahwa memiliki target, atau sasaran itu penting dalam hidup, tapi apakah hal tersebut akan membuat kita lebih bahagia dan sukses?  Tahun baru 2014 telah tiba, dan seperti biasa, kita semua pasti teringat kembali tentang bagaimana mengisi tahun depan. Kata kunci kerennya adalah membuat resolusi tahun baru. Biasanya isinya adalah rencana dan sasaran/target yang ingin dicapai tahun depan.

Tahun ini, saya akan menghindari penetapan sasaran-sasaran spesifik, ataupun menetapkan untuk melakukan sesuatu yang rutin (seperti diet, gym, dan lain lain) di tahun depan. Karena biasanya saya hanya ingat 21 hari setelah tahun baru, setelahnya lupa total dan kembali ke kebiasaan yang lama. Setiap tahun begitu, jadi apa gunanya menetapkan sasaran?

Hidup dengan menetapkan sasaran membuat hidup kita penuh tekanan. Jika gagal, hal tersebut akan membuat kita menderita, merasa menyesal dan memupuskan asa kita. Dalam dunia kerja, gagal mencapai target dapat menurunkan semangat moral karyawan. Tidak jarang pimpinan perusahaan merevisi target supaya moral karyawan tetap terjaga.

Sasaran yang kita tetapkan bisa melenceng atau gagal karena banyak faktor, dari dalam, alam bawah sadar kita akan memberontak untuk melakukan apa yang kita tidak suka/nyaman untuk melakukannya, dari luar, banyak sekali faktor yang bisa menyebabkan kegagalan yang tidak bisa kita kendalikan, misalnya bencana alam, krisis moneter, masalah kesehatan, perubahan manajemen perusahaan tempat kita bekerja dan lain-lain.

Jika sampai terjebak, kita akan menjadi orang yang dingin dan kaku. Mengejar target dapat membuat diri kita terikat, menderita dan secara tidak sadar, kita menjadi orang yang tidak peduli dengan orang lain, menjadi orang yang tidak menyenangkan dan menutup kesempatan dan mengurangi rejeki yang akan datang di masa depan.

Banyak orang mungkin akan salah kaprah tentang konsep hidup tanpa sasaran ini. Mereka mengganggap bahwa hidup tanpa sasaran akan membuat kita menjadi orang malas. Sebenarnya hidup tanpa sasaran bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Hidup tanpa sasaran berarti melakukan apa yang kita sukai dan kuasai, sehingga dapat membuka peluang kita untuk lebih maju.
Daripada menetapkan sasaran, saya lebih mementingkan hidup dengan menjalankan prinsip-prinsip yang  saya yakini. Prinsip hidup merupakan proses yang berkesinambungan, bukan sasaran yang kalau sudah dicapai, selesai, lantas dilupakan. Contoh beberapa prinsip-prinsip saya:
  • Demokratisasi fotografi : Berusaha supaya pendidikan dan pengetahuan tentang fotografi dapat tersebar ke seluruh Indonesia dengan berbagai media antara lain blog (kuturing.blogspot.com), buku-buku, workshop, seminar, pelatihan, tour fotografi dan terbuka untuk semua golongan.
  • Peningkatan yang berkesinambungan : Berusaha meningkatkan diri dan layanan kepada pembaca, murid-murid
  • Terus belajar dan membuka diri terhadap ide-ide baru dalam fotografi dan jenis pelatihan
  • Peduli dan berusaha membantu pembaca dan murid-murid untuk mencapai tujuan mereka, spesifiknya membuat foto yang bagus.
  • Berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa. Seperti tumbuhan yang selalu tumbuh semaksimal mungkin untuk mendapatkan cahaya matahari sebanyak-banyaknya. Manusia berbeda dengan pohon karena manusia bisa punya kemampuan untuk memilih.
Semoga semua pembaca sukses di tahun 2014!

Tips sukses jadi fotografer berbayaran tinggi

Beberapa minggu yang lalu ada yang menanyakan ke saya tentang bagaimana mengatasi honor jasa fotografi yang ditekan vendor catering/bridal. Pertanyaannya menarik yakni seperti berikut:
Share aja saya mempunyai usaha wedding photography yang bekerjasama dengan beberapa catering, dimana yg menjadi permasalahan harga yg di ikat oleh catering utk jasa photography dan video sepertinya sudah di patok alias catering 1 dg lainnya mempunyai harga yg sama misal 2,5 jt utk output 2 album 20×30 @10 sheet dan 1 DVD Video kami sudah berusaha untuk naikan harga tapi catering lebih memilih photographer lain yg lebih murah krn prinsip catering selagi kliennya tidak komplain dia jln terus. akhirnya demi dapur ngebul kami pun ikuti harga itu yg penting tidak rugi. menurut penulis menanggapi permasalahan ini apa yang harus kami lakukan ?
- Kokonoza Photography – Abdul
Masalahnya saya urai seperti berikut ini:
  • Honor rendah, tidak sesuai dengan usaha/keahlian/waktu yang dikeluarkan.
  • Persaingan antara fotografer tinggi
Seiring dengan perkembangan teknologi, kamera digital dan aksesoris yang berkualitas semakin bagus dan terjangkau, banyak fotografer semi-pro atau profesional bermunculan bagaikan jamur di musim hujan. Dengan banyaknya fotografer yang tersedia, maka rata-rata harga jasa foto tentunya semakin rendah sesuai dengan hukum ekonomi. Untuk bisa lepas dari jeratan ini, fotografer pro perlu memiliki strategi dan taktik yang bagus untuk memenangkan persaingan dan tidak terikat harga. 
Perencanaan strategi berkaitan dengan rencana jangka panjang, seperti pencitraan/branding, sedangkan taktik berkaitan dengan rencana jangka pendek, seperti promosi, menawarkan foto dengan efek khusus, lokasi atau pakaian yang langka, dan taktik lainnya.

Yang banyak dilupakan oleh fotografer semi-pro atau pro adalah branding, padahal ini paling penting untuk bertahan di jangka panjang. Branding atau pencitraan adalah semua detail dari usaha fotografi Anda. Bagaimana pembawaan diri, packaging, gaya fotografi, keunikan olah digital, pelayanan dan sebagainya. Tujuan branding adalah supaya calon pengantin bisa membedakan antara jasa yang Anda tawarkan dengan saingan yang lain. Dan yang paling penting adalah mengetahui kelebihan jasa fotografi Anda dan bersedia membayar lebih tinggi daripada pesaing.

Karena persaingan yang ketat dengan sebagian besar fotografer yang cenderung mau bekerja dengan honor yang sangat rendah, maka sebaiknya dibuat perencanaan untuk tidak tergantung pada vendor catering/bridal dll. Dengan strategi branding dan taktik yang kuat, usaha jasa fotografi Anda akan lebih berkembang dan mandiri.

Kesimpulan:
  • Jangan bergantung kepada vendor catering/bridal saja, cobalah lebih mandiri dengan berupaya mencari klien baru sendiri.
  • Harus selalu berupaya meningkatkan kualitas dan lebih kreatif untuk mengembangkan kualitas foto, baik dari segi teknis maupun artistik dari waktu ke waktu.
  • Tingkatkan upaya networking, marketing khususnya promosi dan branding, dan gunakan berbagai kanal seperti pertemanan, saudara, dan media (baik cetak maupun internet).
Bukan hal yang gampang untuk membalikkan honor yang kecil menjadi besar dalam sekejab. Dibutuhkan perencanaan yang matang, peningkatan kualitas yang terus menerus dan yang sering dilupakan yaitu dibutuhkan waktu.
Semoga sukses!

Artikel terbaru

Berita Handphone

More on this category »

Berita Internet & Web

More on this category »

Teknik Hacking

More on this category »

Berita Robot

More on this category »

Berita Pemrograman

More on this category »

Berita kamera

More on this category »